Konsep Takdir dalam Novel The Pearl dan The Alchemist

B. Perbandingan kedua tokoh.

Dalam kedua tokoh baik Kino atau Santiago, kita menemukan pola yang sama dalam jalan ceritanya. Pada awalnya, mereka merasa nyaman dengan kehidupan statis yang sudah mereka dapatkan. Kino adalah seorang penyelam mutiara yang hidup dengan sangat sederhana. Rutinitas dalam hidupnya sangat statis. Yaitu bangun di pagi hari, mencari mutiara, danmenjualnyapada makelar mutiara. Bahkan sampai makanan yang dimakan sehari-hari sama yaitu sebuah roti jagung buatan Juana.
“The dawn came quickly now, a wash, a glow, a lightness, and then an explosion of fire as the sun arose out of the Gulf. Kino looked down to cover his eyes from the glare. He could hear the pat of the corncakes in the house and the rich smell of them on the cooking plate. The ants were busy on the ground, big black ones with shiny bodies, and little dusty quick ants. Kino watched with the detachment of God while a dusty ant frantically tried to escape the sand trap an ant lion had dug for him”(The Pearl).

Sama halnya dengan Santiago yang sudah nyaman dengan rutinitasnya sebagai seorang gembala domba. Yang perlu ia lakukan hanyalah mencari makanan dan air bagi domba-dombanya, kemudian jika waktunya tiba, ia akan pergi ke kota untuk menjual wool dari sebagian domba-dombanya. Rasa nyaman yang telah menjadi kebiasaannya itu telrihat dari kutipan berikut.
“”They are so used to me that they know my schedule,” he muttered. Thinking about that for a moment, he realized that it could be the other way around: that it was he who had become accustomed to their schedule.”(The alchemist).

Mereka nyama dengan apa yang sudah dimiliki. Hidupyang statis dan sesuai dengan apa yangmereka nikmati saat itu. Seperti dengan apa yang terjadi pada Kino denganpekerjaan sebagaipenyelam mutiara yang sudah terjadi turun-menurun. Ia tak pernah mempertanyakan mengapa ia harus menjadi seorang penyelam mutiara atau yang lainnya. Ia cukup menjalaninya demi hidup di esok hari.
“Kino and Juana came slowly down to the beach and to Kino’s canoe, which was the one thing of value he owned in the world. It was very old. Kino’s grandfather had brought it from Nayarit, and he had given it to Kino’s father, and so it had come to Kino. It was at once property and source of food, for a man with a boat can guarantee a woman that she will eat something. It is the bulwark against starvation. And every year Kino refinished his canoe with the hard shell-like plaster by the secret method that had also come to him from his father.”(The pearl).
Semuanya berjalan sangat teratur dan statis. Apa yang berasal dari kakek Kino, akan diwariskan kepada ayah Kino, dan kemudian kepada Kino sendiri, lalu besar kemungkinan pula akan diwariskan kepada anak Kino, dan terus seperti itu. Tiap tahun ia mengerjakan sesuatu yang sama dengan apa yang telah diajarkan oleh ayahnya.

Baca juga:   Osing, Eksistensi Bahasa di Ujung Timur Jawa

Berbeda sedikit dengan Santiago, ia bukan seorang yang memiliki keturunan gembala domba. Sebelumnya, Ia besekolah di sekolah seminari untuk menjadi seorang pendeta. Namun ia memutuskan kepada ayahnya untuk menjadi pengembala Domba. Ia ingin berkelana dan melihat tempat-tempat yang baru.
“His purpose in life was to travel, and, after two years of walking the Andalusian terrain, he knew all the cities of the region…….. “That’s never happened to me,” the boy said. “They wanted me to be a priest, but I decided to become a shepherd.”
“Much better,” said the old man. “Because you really like to travel.””(The Alchemist).

Eksposisi awal yang diberikan dalam kedua novel tersebut, memberikan pembaca gambaran mengenai perubahan ke depan yang akan dialami oleh tokoh. Kehidupan mereka akan berubah dengan drastis sepanjang cerita. Dari yang sangat statis menjadi dinamis bahkan penuh dengan konflik dan keragu-raguan. Namun dari rasa ragu dan berbagai rintangan yang dihadapi, akan menghasilkan takdir yang memang pantas bagi mereka.

Pandangan mereka pada takdir pun pada awalnya sama. Takdir dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima oleh manusia. Jika dlanggar, maka Tuhan akan marah dan menghukum mereka. Hal ini wajar terjadi pada seseorang yang masih memiliki pengetahuan yang sempit dan pemikiran yang tradisional. Dunia menurut sejauh penglihatan mereka hanyalah apa yang mereka lakukan dari pagi hingga tidur kembali di malam hari. Tak ada dalam benak mereka dunia yang luas, bulat, dan dilihat dari atas.

Seperti contoh apa yang dilakukan oleh Kino ketika ingin menjual mutiaranya. Ia tahu bahwa mutiaranya memiliki harga yang sangat tinggi. Namun ia juga tahu, jika dijual di tempat pedagang mutiara setempat, harganya akan jatuh dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Juan Tomas telah memperingatkan Kino untuk berhati-hati. Bahkan ia memberikan penjelasan tentang pendahulu mereka yang hendak menjual mutiara langsung ke kota pusat. Namun hal ini nihil dengan tak berhasilnya pendahulu mereka itu. Masyarakat desa yang tidak tahu apa-apa, hanya boleh menyetor hasil penyelamannya kepada makelar dan nanti makelar yang akan menjualnya dengan harga tinggi di kota.
“”Before you were born, Kino,” he said, “the old ones thought of a way to get more money
for their pearls. They thought it would be better if they had an agent who took all the
pearls to the capital and sold them there and kept only his share of the profit.”
Kino nodded his head. “I know,” he said. “It was a good thought.”
“And so they got such a man,” said Juan Tomás, “and they pooled the pearls, and they started him off. And he was never heard of again and the pearls were lost. Then they got another man, and they started him off, and he was never heard of again. And so they gave the whole thing up and went back to the old way.””(The Pearl).

Baca juga:   Pengkerdilan Peran Perempuan Dalam Pemikiran Yunani

Hal itulah yang dianggap takdir oleh masyarakat tertutup. Takdir yang harus mereka jalani meskipun akan dapat diubah jika mereka bisa melihat dunia yang lebih luas. Pola fikir Kino sejalan dengan apa yang ada di dalam masyarakatnya. Ia menganggap apa yang sudah diceritakan oleh kakaknya itu adalah sebuah pembangkangan terhadap takdir. Tuhan sudah menetapkan tiap manusia pada porsinya masing-masing. Masyarakat penyelam tradisional sebagai produsen yang harus menjualnya ke makelar, dan makelar yang akan mengambil untuk dengan menjualnya ke ibukota.
“”I know,” said Kino. “I have heard our father tell of it. It was a good idea, but it was against religion, and the Father made that very clear. The loss of the pearl was a punishment visited on those who tried to leave their station. And the Father made it clear that each man and woman is like a soldier sent by God to guard some part of the castle of the Universe. And some are in the ramparts and some far deep in the darkness of the walls. But each one must remain faithful to his post and must not go running about, else the castle is in danger from the assaults of Hell.””(The Pearl).
Dalam pendapatKino tersebut, dikutip kata-kata dari pastur di gereja. Pastur berkata tugasmanusia seperti pada sebuah benteng. Dosa besar bagi yang meninggalkan posnya masing-masing. Begitu pula apa yang harus dilakukan masyarakat di lapangan. Hal ini dapat dikatakan takdir yang mendapat campur tangan oleh pihak penguasa. Seperti sudah kita tahu, institusi keagamaan juga mendapat pengaruh dari penguasa atau dalam hal ini penjajah. Agama digunakan sebagai salah satu instrumen penanaman kekuasaan. Jika sebuah masyarakat tidak pernah mau memberontak akan takdirnya yang statis, maka penjajahan itu akan selalu kekal.

Baca juga:   Kajian Kesadaran Kevin O'regan

Hingga akhirnya Kino berani untuk merubah takdirnya ketika merasaditipu oleh para makelar mutiara. Ia merasa harga yang ditawarkan terlalu kecil dan akan mendapatkan lebih ketika menjualnya di ibukota.
“”I am cheated,” Kino cried fiercely. “My pearl is not for sale here. I will go, perhaps even to the capital.”
Now the dealers glanced quickly at one another. They knew they had played too hard; they knew they would be disciplined for their failure, and the man at the desk said quickly, “I might go to fifteen hundred.””(The Pearl).

Keinginan untukmerain harapannya ini terus mendapatkan tentangan dari orang di sekitarnya. Seperti layaknya dalam usaha mencapai segala sesuatu, pasti adarintangan. Kino yang masih setengah-setengah takut akan kehidupan baru di luar sana, memutuskan untuk pergi ke ibukota dan menjual mutiaranya di sana.
“”I don’t know,” said Juan Tomás, “but I am afraid for you. It is new ground you are walking on, you do not know the way.”
“I will go. I will go soon,” said Kino.
“Yes,” Juan Tomás agreed. “That you must do. But I wonder if you will find it any different in the capital. Here, you have friends and me, your brother. There, you will have no one.”
“What can I do?” Kino cried. “Some deep outrage is here. My son must have a chance. That is what they are striking at. My friends will protect me.””(The Pearl).

Pages: 1 2 3 4

6 Comments

  1. Wuihh
    menarik sekali ulasannya, mas.
    Mantap jaya ini.
    🙂

    • Hai, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Sudah baca kedua novel yang diulas di sini? Recommended sekali yang the Alchemist 🙂

  2. terima kasih untuk apresiasinya.. hmmm, sejauh ini, saya belum membaca ada novel indonesia yang sehebat The alchemist.. dengan alur cerita yang sederhana, tapi sarat makna dan kata mutiara. luar biasa.. mungkin kita bisa saling share di sini 🙂

  3. Thanks for sharing.
    Ulasan yang menarik dari dua novel best-seller kelas dunia… Novel Indonesia yg sejenis ini apa ya…? Mungkin beberapa karya Mochtar Lubis atau siapa…?

  4. Sorry bro. komen ini tadinya ketangkep sebagai spam sama wordpress cms.. hoho.. Thanks ya.. nanti kalo ada novel bagus yang sudah saya baca, pasti akan saya share di sini lagi.. Keep visiting bro 🙂

  5. Menarik untuk dibaca, dapat dua keuntungan alias 2 in 1 dapat ilmunya dan belajar dikit-dikit mentranslate. Thanks Bro Dimas sudah memposting e-booknya di kartunet.

Leave a Reply

Top Blog

Website Telah Dikunjungi

  • 17,763 orang
%d bloggers like this: