Categories: Publication

Masih Adakah Nasionalisme Kita?

Sering kita dengar mengenai kata nasionalisme. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan nasionalisme?. Menurut beberapa informasi yang saya tahu, nasionalisme itu berasal dari kata nation, yang artinya bangsa. Jadi kata nation jika ditambah dengan akhiran isme yang sudah kita tahu yaitu paham, berarti nasionalisme adalah paham yang menjunjung tinggi rasa kebangsaan. Atau singkat kata rasa cinta tanah air.

Ada kalanya rasa cinta tanah air ini berlebihan pada suatu bangsa. Sikap ini sudah pernah terjadi yaitu contohnya pada masa pemerintahan Adolf Hitler di Jerman kira-kira pada tahun-tahun menjelang perang dunia kedua. Hitler dengan partai Natzinya pada waktu itu menggembar-gemborkan bahwa mereka bangsa Jerman adalah bangsa Area yang merupakan ras unggul. Jadi mereka merasa bahwa sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk memimpin dunia ini dan memerintah bangsa-bangsa lain yang mereka anggap lebih rendah. Sikap negatif ini dinamakan Chaufimisme.

Lalu kita sekarang masuk ke topik. Yang saya maksudkan yaitu “apakah masih ada nasionalisme di republik ini?”.

Sebenarnya bangsa kita belum lama mengenal Nasionalisme. Paham itu baru muncul kira-kira awal abad ke-20 yang berasal dari rambatan semangat revolusi Perancis tahun 1789. Revolusi itu sendiri berupa penentangan rakyat Perancis yang sudah jengah dengan nasib melarat mereka karena kekuasaan raja yang absolut beserta para bangsawan dan para pendeta gereja. Para bangsawan dan kaum gereja termasuk penduduk kelas 1 dan 2 di Perancis pada saat itu. Kemudian rakyat jelata yang tidak diakui kedudukannya bersama penduduk kelas 3 yaitu kaum borjuice atau warga kota para pengusaha perancis, bersama-sama memberontak kepada Raja menuntut agar diadakan pembatasan pada kekuasaan raja yang tidak terbatas itu atau absolut.

Kemudian rakyat bersama-sama tentara menyerbu penjara Bastile yang merupakan simbol keabsolutan raja. Di sana mereka membebaskan para tahanan politik dan merebut senjata yang karena tempat itu juga merupakan gudang senjata. Revolusi ini juga didukung oleh tentara karena sebagian besar tentara juga berasal dari rakyat jelata sehingga mereka merasakan bagaimana penderitaan rakyat. Kemudian sikap tentara ini juga didukung oleh Jenderal Lavayette yaitu pahlawan perang kemerdekaan Amerika Serikat yang berhasil melepaskan diri dari penjajahan Inggris. Dari sebab membantu perang kemerdekaan itu, Lavayette sadar bagaimana pentingnya kebebasan bernegara dan demokrasi yang pada ssat itu dianut oleh amerika Serikat. Ia juga tahu bahwa paham Demokrasi itu diambil dari pemikiran cendikiawan Perancis sendiri yaitu diantaranya J.J. Roseau, Voltaire, dan Montesque.

Slogan-slogan Liberte (kebebasan), Egalite (persamaan), dan Fraternite (persaudaraan) inilah yang menjadi inspirasi seluruh dunia untuk melakukan demokratisasi dan modernisasi. Hal ini termasuk menjalar ke Indonesia yang pada saat itu sudah mulai bermunculan kaum-kaum terpelajar karena politik etis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Sebenarnya Politik Etis ini dilakukan tidak sepenuh hati untuk balas budi karena hasil bumi dan manusia Indonesia yang telah dieksploitasi besar-besaran oleh pemerintah kolonial Belanda, tapi yang paling utama adalah untuk kepentingan Belanda sendiri.

Politik Etis itu terdiri dari tiga asas. Yaitu Irigasi atau pengairan, Transmigrasi Atau perpindahan penduduk, dan Edukasi Atau pendidikan. Dari ketiga asas tersebut, hanya asas terakhir yang benar-benar bermanfaat bagi bangsa Indonesia walaupun tidak seluruh bangsa Indonesia dapat merasakannya.

Untuk irigasi, hal ini ditujukan untuk mengajarkan sistem pengairan pada sawah-sawah milik Belanda. Sehingga hasil pertanian yang akan disetorkan untuk belanda akan semakin berlipat dan pada akhirnya Belanda juga yang diuntungkan. Sedangkan bangsa Indonesia terutama yang mengolahnya tetap sengsara dengan adanya sistem tersebut.

Lalu untuk transmigrasi. Sistem ini yaitu memindahkan sebagian penduduk pulau Jawa yang padat ke sumatera yang di sana masih jarang penduduknya. Para penduduk itu dipindah ke daerah perkebunan Belanda di darerah sumatra timur yang di sana mereka akan dijadikan pekerja. Hal ini pada akhirnya juga hanya menguntungkan pemerintah kolonial Belanda karena dengan itu hal perkebunan itu akan semakin besar dan keuntungan semakin mengalir ke kas Belanda.

Page: 1 2

Dimas Prasetyo Muharam

Alumnus program S1 jurusan Sastra Inggris Universitas Indonesia angkatan 2007, salah seorang pendiri komunitas Kartunet.com, Konsultan disabilitas dan teknologi aksesibel, dan peneliti di Pusat Penilaian Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

View Comments

  • jadi masih ada apa ngak? soalnya di tulisannya masih ngambang heheh banyakan sejarahnya mas bukan nasionalisme indonesia saat ini :)

Published by
Dimas Prasetyo Muharam

Recent Posts

Intip Harga Coklat Batangan Siap Makan yang Mudah Lumer di Mulut

Tangerang - Coklat jadi salah satu snack favorit di momen-momen spesial. Rasanya yang istimewa dan…

2 minggu ago

Mengurus Akta Kelahiran Berbahasa Inggris untuk Ke Luar Negeri

Bisa jadi Anda membaca artikel ini karena sedang ingin Mengurus Akta Kelahiran Berbahasa Inggris untuk…

1 bulan ago

Disability Rising Awareness lewat Lomba Catur HUT KORPRI ke-48

Jakarta, (26-11-2019) - Kampanye publik untuk lebih mengenal dan memahami disabilitas tidak hanya dengan acara…

4 bulan ago

Tak Menyesal Berdiri hampir 2 jam di Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional 2019

Jakarta (25-11-2019) - Pagi ini rasa haru membuncah di hati saya saat mengikuti upacara bendera…

4 bulan ago

Mengurus BPJS Kesehatan untuk CPNS dan PNS Baru

PNS atau Pegawai Negeri Sipil masih menjadi profesi favorit masyarakat Indonesia. Salah satu alasannya adalah…

2 tahun ago

Paket Internet Telkomsel Paling Murah 25Gb Cuma 90 ribu 30 hari

Depok - Hai para fakir kuota dan pemburu wi-fi, ada info menarik buat kamu yang…

2 tahun ago

This website uses cookies.