Perbandingan Nasionalisme Jepang dan Indonesia

Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk menemukan kembali nasionalisme Indonesia. Melalui pembahasan pengertian kata nasionalisme, ditelusuri mengenai formasi rasa kebangsaan bangsa Indonesia. Selain itu, ingin diperlihatkan pula bagaimana komparasi antara nasionalisme yang tumbuh di Indonesia dengan Jepang sebagai sesama negara Asia.

Metode Penulisan

Tulisan ini merupakan kajian pustaka terhadap beberapa sumber baik di media cetak atau elektronik mengenai makna dan perkembangan nasionalisme di Indonesia dan Jepang. Selanjutnya, dilakukan komparasi terhadap nasionalisme di dua negara tersebut.

Pengertian Nasionalisme

Sebelum melihat bagaimana nasionalisme di Indonesia dan Jepang, ada baiknya untuk dilihat dulu pengertian kata yang menjadi inti tulisan ini, yakni nasionalisme. Dilihat dari akar katanya, kata nasionalisme berasal dari dua kata yakni nation dan isme. Definisi Bangsa atau Nations menurut Anthony D.Smith adalah suatu komunitas manusia yang memiliki nama, mitos sejarah bersama, budaya yang umum, perekonomian bersama, hak dan kewajiban bersama, dan menguasai suatu tanah air. Dalam takaran menjadi “nation” ini, perlu ada rasa cinta tanah air yang dengan ini dapat menjalin tiap manusia di dalamnya untuk menjadi sebuah “nation” yang utuh. Sedangkan untuk akhiran isme, imbuhan ini memiliki makna paham atau aliran. Oleh karena itu, secara sederhana, nasionalisme dapat dimaknai sebagai paham yang meyakini tentang kesetian yang diabdikan secara total untuk negara dan bangsa yang diperjuangkannya.

Menurut Joseph Ernest Renan, nasionalisme adalah sekelompok individu yang ingin bersatu dengan individu-individu lain dengan dorongan kemauan dan kebutuhan psikis. Sebagai contoh adalah bangsa Swiss yang terdiri dari berbagai bangsa dan budaya dapat menjadi satu bangsa dan memiliki negara. Di bangsa Swiss sendiri, terlihat jelas bagaimana keberagaman itu. Dari bahasa yang mereka gunakan saja, terlihat ada bahasa Jerman, Italia, atau Perancis yang sama-sama memiliki pengaruh di Swiss. Dari tiap penduduk Swiss dengan budayanya masing-masing itu, timbul kesepakatan untuk membentuk sebuah negara, dengan tetap mempertahankan karakter masing-masing.

Otto Bauer mengatakan bahwa nasionalisme adalah kesatuan perasaan dan perangai yang timbul karena persamaan nasib. Makna nasionalisme ini amat dirasakan di negara-negara Asia Afrika yang terjajah. Meski tiap negara itu terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa, atas dasar persamaan nasib sebagai bangsa terjajah, mereka menjalin sebuah ikatan bathin sebagai suatu bangsa.

Sedangkan menurut Hans Kohn, Nasionalisme adalah kesetiaan tertinggi yang diberikan individu kepada negara dan bangsa. Ini menjadi sebuah konsepsi yang berlaku secara universal di tiap negara. Para pemimpin negara, memanfaatkan rasa nasionalisme rakyatnya sebagai alat untuk membela kepentingan negara. Meski pada awalnya baik, rasa nasionalisme yang berlebihan pun dapat berbahaya bagi bangsa itu sendiri. Contoh jelas adalah ultranasionalisme yang timbul di negara-negara pelaku perang dunia I dan II. Dengan rasa bangsa terhadap negaranya yang berlebihan itu, para pemimpin berhasil memanfaatkan rakyat sebagai pembela kepentingan negara atas nama nasionalisme.

Terakhir, Louis Snyder berpendapat bahwa nasionalisme adalah hasil dari faktor-faktor politis, ekonomi, sosial dan intelektual pada suatu taraf tertentu dalam sejarah. Sebagai contoh adalah timbulnya nasionalisme di Jepang. Untuk membangun nasionalisme di bangsa Jepang, Shogun yang sedang berkuasa saat itu menerapkan politik isolasi untuk menghindarkan rakyat Jepang dari pengaruh asing. Dengan ini, rakyat Jepang berhasil menanamkan sebuah karakter yang kuat untuk menhadapi pengaruh asing yang masuk kemudian.

1 thought on “Perbandingan Nasionalisme Jepang dan Indonesia”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *