Perbandingan Nasionalisme Jepang dan Indonesia

Pra-nasionalisme Indonesia sebelum Abad 20

Masa ini berlangsung sejak bangsa Eropa memasuki nusantara di abad 16 hingga politik balas budi (etis) Belanda di abad 20. Pada masa ini, ada ciri-ciri yang jelas dari perjuangan masyarakat nusantara yang terlihat dari cara perjuangan dan sifat-sifat kedaerahannya.

  1. Perjuangan yang bersifat kedaerahan.

    Sejak bangsa Eropa menjejakkan kakinya di bumi nusantara, telah muncul berbagai perlawanan yang diakibatkan oleh sikap sewenang-wenang bangsa Eropa terhadap pribumi.

    Di pulau Jawa, perjuangan ini terlihat antara lain dengan usaha pengusiran VOC (kongsi dagang Belanda) dari Batavia oleh Sultan Agung dari Mataram. Perang yang terjadi pada awal abad 17 ini, didorong dengan kepentingan kesultanan Mataram untuk menguasai pelabuhan sunda kelapa yang amat strategis di jalur perdagangan internasional. Selain itu, dengan menguasai Batavia, hal ini dapat mempermudah pengaruh Mataram di kesultanan Banten. Namun, karena timpangnya persenjataan yang digunakan antara Belanda dan Mataram, mengakibatkan kekalahan bagi kesultanan Mataram.

    Masih di abad 17, terjadi juga perlawanan kesultanan Banten yang dipimpin oleh sultan Ageng Tirtayasa. Sebagai pelabuhan bebas, sultan Banten menolak monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC di Banten. Namun pada akhirnya, perjuangan ini pun berakhir dengan ditangkapnya sultan Ageng Tirtayasa karena pengkianatan anaknya sendiri.

    Sementara itu, di abad ke 19, perlawanan terhadap pemerintah HIndia Belanda pun terus berlangsung. Di Sumatra, ada perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Di aceh, berkobar perang Aceh hingga awal abad 20 yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Aceh seperti Cut Nyak Dien dan Teuku Umar. Di Kalimantan, Jawa, Maluku, hingga Bali terus terjadi perlawanan terhadap hasrat Belanda untuk menguasai seluruh nusantara.

  2. Politik Adu Domba.

    Karena wawasan rakyat saat itu hanya terbatas pada kesamaan fisik, adat istiadat, dan daerah saja, politik adu domba amat mudah diterapkan oleh Belanda. Sebagai contoh adalah apa yang terjadi pada perang Padri. Setelah berakhirnya perang Diponegoro tahun 1830, Belanda mengirimkan laskar pimpinan Sentot Ali Prawirodirjo untuk ikut memerangi kaum Padri. Karena terbatasnya pengetahuan mengenai wawasan nusantara, mereka tetap saling menyerang karena merasa asing satu sama lain.

  3. Tergantung pada pemimpin.

    Dalam tiap perang kedaerahan sebelum abad 20, sosok pemimpin amat sentral. Selain sebagai pembuat strategi, pemimpin perang keaderahan juga berperan sebagai pemimpin spiritual. Pemimpin masa ini dianggap sebagai orang yang diberikan kelebihan oleh Tuhan untuk memimpin mereka dalam melawan Belanda. Konsepsi mengenai ratu adil yang ada di beberapa tempat di nusantara, turut mendukung terjadinya perang-perang ini. Oleh sebab itu, ketika pemimpin tertangkap atau wafat, maka berakhirlah perang tersebut.

    Dari ciri-ciri ini, dapat dilihat bagaimana belum adanya rasa kebangsaan sebagai bangsa Indonesia atau nasionalisme. Tiap perang, hanya memperjuangkan kepentingan lokal dengan tujuan yang terbatas pada daerahnya saja. Belum ada pemahaman bahwa antara satu suku dengan suku lainnya di nusantara untuk menjadi satu kesatuan.

Nasionalisme Indonesia abad 20

Masa ini diawali oleh politik etis yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Buku Max Havelar karya Dowes Dekker atau Multatuli secara tidak langsung memberikan gambaran pada Eropa bagaimana penderitaan pribumi Indonesia saat itu. Mulailah timbul gerakan humanisme dan liberalisme yang berujung pada politik pintu terbuka dan politik etis.

Politik etis sendiri mencakup tiga bidang, transmigrasi, irigasi, dan edukasi. Transmigrasi, dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memindahkan sebagian penduduk Jawa yang cukup banyak ke pulau Sumatra sebagai tenaga kerja perkebunan. Untuk irigasi, hal ini semata-mata ditujukan untuk pengairan sawah-sawah yang hasilnya akan disetor kepada pihak Belanda. Sedangkan untuk edukasi, ini poin yang cukup memberikan angin segar untuk bangsa Indonesia meski hanya pribumi dari kalangan bangsawan saja yang boleh mengenyamnya.

Pada masa ini pula, mulai timbul rasa nasionalisme. Paham yang berasal dari Eropa ini, didapatkan oleh kaum terpelajar Indonesia dari pendidikan bergaya Eropa dari pemerintah Belanda. Selain itu, wawasan yang mulai terbuka akan dunia internasional pun turut memberikan pemahaman bagi makna nasionalisme. Keadaan Asia Afrika yang sedang mengalami kebankitan, menjadi sebuah inspirasi untuk mulainya masa pergerakan di Indonesia.

Adapun ciri-ciri perjuangan bangsa Indonesia abad 20 ini dapat dipaparkan sebagai berikut.

  1. Terbentuknya organisasi-organisasi modern.

    Dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo (BO) pada tahun 1908, menandai dimulainya pergerakan Indonesia melalui cara modern. Organisasi ini menunjukan adanya perubahan dari sebuah aksi yang tidak terstruktur, menjadi sebuah upaya yang terorganisir dengan visi dan misi yang jelas. Meski pada perkembangannya organisasi ini didominasi oleh para priyayi (bangsawan) Jawa saja, munculnya BO menjadi tonggak awal dari pergerakan modern Indonesia.

    Selain BO, bermunculan pula organisasi-organisasi lain yang sifatnya lebih nasional. Sarekat Islam dan Indische Partij, merupakan organisasi yang anggotanya tidak dibatasi oleh daerah atau suku. Khusus untuk Sarekat Islam, keanggotaan berdasarkan agama. Tujuan dari organisasi ini pun awalnya untuk melindungi para pedagang muslim dari dominasi pedagang keturunan Tionghoa. Sedangkan Indische Partij keanggotaannya berlandaskan pada nasionalisme (tidak terbatas akan ras, suku, atau agama) dengan tujuan jelas yakni Indonesia Merdeka. Dalam parktiknya, INdische Partij berusaha menanamkan kepada rakyat Indonesia mengenai konsep nasionalisme Indonesia.

    Setelah masa BO, Sarekat Islam, dan Indische Partij yang tergolong moderat, pergerakan memasuki masa radikal dengan kemunculan Partai Nasional Indonesia (PNI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Semua organisasi ini secara terorganisir memanfaatkan politik sebagai media pergerakannya. Agitasi-agitasi politik untuk mengobarkan nasionalisme rakyat, sering dilakukan demi tujuan Indonesia merdeka. Di sini pemahaman akan nasionalisme itu sudah semakin jelas. Rasa kebangsaan sebagai orang Indonesia, digunakan sebagai modal mempersatukan berbagai suku bangsa yang ada untuk kemudian sama-sama merasa sebagai satu bangsa.

  2. Mengedepankan pendidikan kebangsaan.

    Dari kaum terpelajar yang beruntung untuk mengenyam pendidikan dari pemerintah Belanda, mereka ini kemudian mengajarkan ilmu mereka kepada pribumi lain yang bukan bangsawan. Pengajaran ini tidak hanya sekedar membeirkan ilmu pengetahuan barat, tapi ada pula pengembangan wawasan nasionalisme agar semakin merasa sebagai bangsa Indonesia. Sekolah-sekolah yang dibangun seperti sekolah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara, tidak membedakan suku, ras, atau agama. Siapa saja boleh mendapatkan pendidkan, sehingga terbangunlah rasa nasionalisme itu sejak dini.

  3. Perjuangan melalui parlemen.

    Di dalam pemerintahan Hindia Belanda, dikenal Folks raat atau parlemen di HIndia Belanda. Parlemen ini berfungsi seperti dewan penasihat gubernur jendral untuk kebijakan-kebijakannya di Hindia Belanda. Anggota dari dewan ini terdiri dari orang Belanda totok (asli), perwakilan golongan asia timur, dan orang pribumi dari kalangan bangsawan. Dari mulai diakuinya kedudukan pribumi di dalam folksraat ini, golongan elit semakin terbuka wawasan nasionalismenya setelah sadar bahwa pribumi hanyalah masyarakat lapisan ketiga di tanah airnya sendiri. Muncul kemudian petisi Sutarjo yang isinya menuntut Indonesia berparlemen yang memiliki fungsi legislatif. Sehingga demikian, Indonesia memiliki peranan lebih besar untuk mengatur kehidupan bernegara di Hindia Belanda.

    Dari masa pergerakan ini dapat dilihat, bagaimana nasionalisme mulai tumbuh subur dalam kehidupan rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia saat ini tidak lagi berjuang secara kedaerahan. Mereka sadar bahwa Indonesia adalah Jawa, Sunda, Batak, Minang, dan berbagai suku lain di nusantara. Meraka pula sadar, bahwa keindonesiaan itu adalah berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia, dan bertanah air satu tumpah darah Indonesia. Kesadaran ini terus menyebar dari kalangan bangsawan ke rakyat jelata. Muncul kini pemimpin-pemimpin baru yang berjuang tidak dibatasi oleh masalah geografis, melainkan dengan cara-cara yang modern dan terstruktur.

1 thought on “Perbandingan Nasionalisme Jepang dan Indonesia”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *