Perbandingan Nasionalisme Jepang dan Indonesia

Nasionalisme di Jepang

Masa isolasi Jepang atau Sakoku (1639 – 1854), menjadi cikal bakal terbangunnya nasionalisme Jepang. Di masa tertutup itu, bangsa Jepang memiliki waktu lebih dari 200 tahun untuk memupuk rasa kebangsaannya, sedang bangsa Eropa gencar melakukan pelayaran imperialisme kunonya dengan semboyan Gold, Glory, Gospel (3G). Namun, rasa nasionalisme ini baru benar-benar terlihat ketika Jepang dipaksa untuk membuka diri ke dunia luar pada tahun 1854 oleh Amerika Serikat. Di sini, rasa cinta tanah air dimodifikasi sebagai kekuataan yang membuat Jepang memiliki pengaruh besar di dunia hingga saat ini.

Masa restorasi Meiji.

Dibukanya pelabuhan Shimoda dan Hokodate akibat dampak perjanjian Kanagawa (1854), memberikan akses bagi pedagang asing untuk masuk ke Jepang. Mulai saat itu, penduduk Jepang menyadari betapa tertinggalnya mereka dengan bangsa Eropa dari segi teknologi dan ilmu pengetahuan. Meski selama masa Sakoku ilmu pengetahuan barat tetap diadopsi dalam sistem pendidikan Jepang, perbedaan itu tetap terasa jelas.

Kaisar Mutsuhito atau Tenno Meiji yang mengambil-alih pemerintahan Jepang dari tangan Shogun mulai melakukan perbaikan-perbaikan untuk mengejar ketertinggalan Jepang. Ia mendeklarasikan Charter Outh atau sumpah setia yang merumuskan lima hal utama yang harus dicapai oleh Jepang.

  1. Akan dibentuk parlemen.
  2. Seluruh bangsa harus bersatu untuk mencapai kesejahteraan.
  3. Adat istiadat yang kolot dan menghalangi kemajuan Jepang harus dihilangkan.
  4. Semua jabatan terbuka untuk siapa saja.
  5. Mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin untuk pembangunan negara.

Pembaruan atau restorasi yang dilakukan oleh Meiji Tenno ini mencakup berbagai aspek dari mulai politik, ekonomi, pendidikan, dan militer. Dari segi politik, kaisar Meiji memindahkan ibukota, mengesahkan Hinomaru sebagai bendera nasional dan Kimigayo sebagai lagu kebangsaan, dan restrukturisasi jabatan Dainyo menjadi pegawai negeri dan para Samurai sebagai tentara nasional. Sedangkan di bidang ekonomi, Jepang menggiatkan sektor perdagangan dan industri dengan politik Dumping yang secara efektif membuat ekonomi Jepang mampu bersaing di kancah internasional. Di sektor pendidikan pun, Jepang menggunakan sistem barat dan mewajibkan penduduk Jepang usia 6 – 14 tahun untuk mendapatkan pendidikan gratis. Terakhir, pembaruan bidang militer turut menjadi perhatian dengan mencontoh Jerman untuk angkatan darat, dan Inggris di angkatan lautnya meski tetap memasukan pada -prinsip Bushido patriotik Jepang.

Ultranasionalisme Jepang.

Ketika industri Jepang telah amat maju, kenyataan bahwa Jepang tidak memiliki sumber daya alam yang mencukupi menjadi sebuah masalah. Demi menjaga industri Jepang tetap berkembang, perlu ada pasokan tetap bahan mentah meski harus didatangkan dari luar Jepang. Dengan modal militer yang kuat dan rasa nasionalisme Jepang yang telah dibina pada masa Sakoku dulu, muncullah sikap ultranasionalisme atau nasionalisme yang berlebih yang kemudian akan berdampak pada pendudukan daerah-daerah sekitar Jepang.

Sikap ini turut pula didukung oleh konsepsi Sintoisme yang disebut Hakko Ichiu. Menurut konsepsi ini, dunia adalah satu keluarga, dan Jepang berkewajiban untuk memimpin dunia (Asia Pasifik). Dengan propaganda seperti ini, rasa kecintaan orang Jepang terhadap negaranya semakin tinggi dan membuat orang Jepang rela mati demi membela kepentingan negara. Hal ini pada akhirnya membawa Jepang pada kancah perang Asia Timur Raya dengan Amerika Serikat dan para sekutunya.

Nasionalisme Jepang Masa Kini.

Pasca perang dunia II, Jepang berhasil bangkit menjadi negara industri modern. Perekonomian Jepang menjadi salah satu kekuataan utama di kawasan Asia. Meski Jepang telah menjadi amat dekat dengan modernisme barat, Jepang tetap mempertahankan nasionalismenya. Pakaian khas Jepang yang dinamakan Kimono, menjadi salah satu identitas Jepang yang tetap digunakan masyarakatnya. Dalam menggunakan produk-produk industri, masyarakat Jepang akan lebih suka dengan produk dengan label “made in Japan”. Selain itu, penggunaan huruf Kanji dan Hiragama tetap dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari meski terkadang orang Jepang sendiri sulit untuk menuliskannya. Semua sikap ini, tidak lain adalah karena orang Jepang bangga akan identitasnya sebagai orang Jepang.

Komparasi Nasionalisme Indonesia dan Jepang

  1. Dari segi pertumbuhan nasionalisme.
    Indonesia
    • Tumbuh dari kaum terpelajarnya yang dididik oleh penerintah kolonial Belanda.
    • Menggunakan alat penyebar nasionalisme dengan organisasi-organisasi yang bersifat modern.
    • Memiliki tujuan Indonesia merdeka.

    Jepang.

    • Berasal dari manipulasi pemerintahnya yang secara politis menerapkan Sakoku atau politik isolasi.
    • Muncul dengan sendirinya dari proses penanaman budaya dan tradisi yang kuat selama masa tertutup.
    • Nasionalisme ditujukan untuk melakukan pembaruan atas ketertinggalan Jepang dengan bangsa-bangsa Eropa.
  2. Masa kini.
    Indonesia.
    • Nasionalisme hanya dipahami sebagai slogan dan kata-kata magis pada peristiwa-peristiwa tertentu.
    • Kurang rasa mencintai produk atau hasil dalam negeri.
    • Nasionalisme akan timbul ketika merasa diganggu oleh negara asing.

    Jepang.

    • Nasionalisme Jepang masih ada dilihat dari masih dipegangnya prinsip-prinsip Bushido.
    • Sangat cinta dengan produksi dalam negeri Jepang.
    • Nasionalisme itu masih kuat, meski Jepang saat ini dilarang untuk memiliki tentara militer.

Penutup

Antara nasionalisme Indonesia dan Jepang amat terkait. Nasionalisme Jepang yang mendorong kemajuan sektor industri dan militer di Jepang, berdampak pada dunia dengan kemenangnya atas perang terhadap Rusia tahun 1905. Dari sana, kaum terpelajar Indonesia pun ikut terinspirasi untuk bergerak menentang penjajahan Belanda. Jika tadinya ada anggapan bahwa orang Asia akan selalu kalah dari bangsa kulit putih, Jepang mampu mematahkan semua itu. Meski Jepang telah banyak berjasa bagi perkembangan nasionalisme di Indonesia,

Referensi

Listiyani, Dwi Ari. Nasionalisme Jepang. http://id.shvoong.com/humanities/history/2070244-nasionalisme-jepang/ [Diunduh pada 13 November 2010 pukul 09:30 WIB]

Susilowati, Karunia Yeni. Masa Sakoku: Titik Awal Nasionalisme Jepang. http://karuniayeni.blogspot.com/2010/03/masa-sakoku-titik-awal-nasionalisme.html [Diunduh pada 13 November 2010 pukul 10:00 WIB]

Lahapasi. Nasionalisme Gaya Jepang?. http://lahapasi.wordpress.com/2008/02/18/nasionalisme-gaya-jepang/ [Diunduh pada 13 November 2010 pukul 10:10 WIB]

Saifuddin, Achmad. Nasionalisme ditinjau dari akarnya. http://himpsijaya.org/2006/08/14/nasionalisme-ditinjau-dari-akarnya/ [diunduh pada 14 November 2010 pukul 20:00 WIB]

Anonim. Pergerakan Bangsa Indonesia. http://l32central.tripod.com/pergerakan.htm [diunduh pada 14 November 2010 pukul 20:10 WIB]

1 thought on “Perbandingan Nasionalisme Jepang dan Indonesia”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *