Tak Menyesal Berdiri hampir 2 jam di Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional 2019

Tak Menyesal Berdiri hampir 2 jam di Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional 2019

Jakarta (25-11-2019) – Pagi ini rasa haru membuncah di hati saya saat mengikuti upacara bendera memperingati Hari Guru Nasional 2019. Bukan hanya karena upacara yang dipimpin oleh mas menteri Nadiem dengan isi dan penyampaian pidato beliau yang sangat inspiratif dan milenial, tapi juga makna dari hari guru itu sendiri.

Lagu demi lagu yang dinyanyikan tim paduan suara dari Hymne Guru dan Terima Kasih Guru mengantarkan saya pada memori belasan tahun lalu, ketika sempat putus sekolah karena kehilangan penglihatan di usia 12 tahun, hingga kesadaran saat ini berdiri di lapangan, di depan hadapan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dengan berseragam Korpri.

Tak lain dan tak bukan, saya dapat meraih hari ini adalah karena bantuan para guru saya semasa sekolah, tentu selain dukungan penuh orang tua. Tak dapat saya bayangkan, apabila saat itu para guru menolak atau apatis pada keberadaan saya yang memiliki keterbatasan penglihatan tapi belajar di sekolah reguler/umum. Betapa sabar mereka memmbimbing saya dan rela meluangkan tenaga dan fikiran untuk menyampaikan materi dengan cara yang berbeda. Alangkah berartinya ketulusan mereka yang tak membedakan saya dengan siswa lainnya di kelas yang tanpa disabilitas/kebutuhan khusus, sehingga saya pun diberi kesempatan untuk berprestasi melampaui keterbatasan saya.

Benar kiranya lirik di salah satu lagu “Namamu akan selalu hidup di sanubariku”. Masih ingat saya dengan sebagian besar nama-nama guru yang membimbing saya. Saat SD ada bu Purwanti, bu Lili, bu Suryati guru IPA, pak Saronto guru IPS, pak Tabroni, pak Said Bakar, pak Amsar guru olahraga, pak Ngadiran wali kelas 6, dll. Di SMP ada pak Tarsum walikelas 1, bu Yuni dan bu Sri wali kelas 2, dan bu Sari walikelas 3. Tentu guru-guru lainnya pak Tasirun guru Fisika/elektronika, bu Asmita guru Matematika, bu Atik dan pak Aris guru Fisika, bu Sri Wahyuni guru Biologi, pak Agus guru Sejarah, dll. Lalu di SMA ada pak Suganda guru Seni Rupa dan walikelas 10, bu Nani guru Sejarah dan walikelas 11, pak Didi guru Ekonomi, bu Fertini guru Fisika, bu Tini guru Biologi, bu Retno guru Sejarah, bu Kadar guru Kimia, bu Nurul dan pak Akip guru Bahasa Inggris, dll. Paling tidak, menurut saya masih mengingat nama para guru saya jadi sebuah reminder bahwa kita besar saat ini tak bukan karena jasa beliau-beliau pula.

Baca juga:   Ketika 1000 Blogger Bertemu di Joglo Abang

Selamat Hari Guru Nasional 2019. Semoga takdir yang membawa saya jadi salah satu pegawai di Kemendikbud ini, jadi jalan saya untuk sedikit berkontribusi untuk pendidikan, dan membanggakan bapak / ibu guru yang tak menyesal memberi saya kesempatan untuk dapat melanjutkan sekolah 19 tahun lalu. (DPM)

#HGN2019 #MerdekaBelajar #GuruPenggerak

2 Comments

  1. Selamat Dim…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu DPM

Subscribe

Enter your email address: